
Bahorok, Langkat – Konflik antara manusia dan harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) kembali terjadi di Dusun Batu Katak, Desa Batu Jong Jong, Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat. Dua ekor lembu milik warga ditemukan mati diduga dimangsa harimau pada 1 dan 5 Februari 2022, sehingga memunculkan keresahan dan ketakutan warga untuk beraktivitas di kebun.
Tindak lanjut laporan masyarakat, Tim dari Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) dan Yayasan Sumatera Hijau Lestari (YSHL) melakukan patroli monitoring. Tim kemudian menemukan bangkai anak lembu serta jejak-jejak identik dengan konflik harimau pada tahun-tahun sebelumnya.
Mitigasi konflik dilakukan pada 7 Februari dengan melibatkan berbagai pihak seperti Balai Besar KSDA Sumut, BBTNGL, YHUA, masyarakat, hingga aparat desa. Warga mengharapkan adanya pendampingan bersenjata karena takut bekerja di ladang. Camat Bahorok menyatakan akan berkoordinasi dengan Polsek dan Koramil untuk mengupayakan hal tersebut.
Sebagai langkah penanganan darurat, Balai Besar KSDA Sumatera Utara telah memasang satu unit kandang jebak, dan mendorong kolaborasi lembaga mitra seperti Yayasan PETAI untuk menambah kandang lainnya. Selain itu, rencana pelibatan pawang harimau untuk upaya penangkapan satwa juga mulai dibahas.
Surat resmi dari Plt. Kepala Balai Besar KSDA Sumut kepada Bupati Langkat (Nomor: S.606/K3/BIDTEK/KSA/02/2022) bahkan menyarankan agar konflik harimau ini bisa ditetapkan sebagai bencana daerah, karena telah menghambat ekonomi warga dan membuat mereka tidak bisa berkebun selama lebih dari dua minggu.
Sebelumnya, masyarakat di empat desa termasuk Batu Jong Jong telah memasang Tiger Proof Enclosure (TPE), namun jumlahnya terbatas di wilayah ini. Sebagai tindak lanjut, tim terpadu kembali memasang satu unit kandang TPE baru pada 9 Februari 2022 dan hingga kini masih terus memantau lokasi.